dakwatuna.com – Banten. Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Wilayah Banten mendapatkan penghargaan sebagai Partai Politik tersiap pertama dalam pelaksanaan Undang-Undang (UU) Nomor 14 Tahun 2008 tentang keterbukaan informasi publik untuk tingkat Provinsi Banten. Penghargaan tersebut diberikan oleh Komisi Informasi Provinsi (KIP) Banten, dalam penganugerahan KIP Award, di Pendopo Gubernur Banten, Selasa (10/12/2013).

Penghargaan ini diserahkan kepada Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) PKS Banten, Irfan Maulidi yang pada kesempatan tersebut diwakilkan oleh Ketua Bidang (Kabid) Humas DPW PKS Banten, Siti Saidah Silalahi.

“Penghargaan ini diberikan karena PKS dianggap menjadi partai yang paling transparan di Banten, dengan penilaian paling utama kehumasannya, keterbukaan informasi publik,” tutur Saidah.

Wakil Ketua KIP Banten, Toni Anwar Mahmud menjelaskan bahwa selain memberikan penghargaan terhadap Partai Politik tersiap dalam menjalankan UU No.14 Th.2008, KIP Award ini juga memberikan penghargaan terhadap SKPD dan Pemerintah Kabupaten/Kota terpatuh dalam menjalankan UU No.14 Th.2008. (ded/dakwatuna)


Sumber: dakwatunacom

dakwatuna.com - Ikhtiar taaruf menuju pernikahan tak selamanya berjalan mulus, ada kalanya proses taaruf ‘mentok’ di tengah jalan sehingga diputuskan untuk mengakhiri proses yang telah dijalani. Selain ketidakcocokan antara pihak-pihak yang bertaaruf, faktor orang tua kedua belah pihak tak sedikit pula yang menjadi penyebab tidak berlanjutnya proses taaruf tersebut. Berikut ini 3 hal yang perlu anda perhatikan untuk mengantisipasi agar proses taaruf yang anda jalani tak ‘mentok’ di orang tua.

1. Dapatkan Ijin Menikah dari Orang Tua
Ijin menikah dari orang tua saya letakkan di urutan pertama karena memang menjadi ‘kunci’ dari proses taaruf. Pastikan ijin menikah dari orang tua sudah anda dapat sebelum proses taaruf anda jalani. Tidak ada ijin menikah dari orang tua, maka tidak ada proses taaruf yang perlu anda jalani. Tentunya ijin yang memang bersumber dari keridhoan orang tua, bukan ijin menikah yang diberikan ‘terpaksa’ karena ‘ancaman-ancama­n’ yang terus menerus anda berikan ke orang tua.

Fenomena yang terjadi sekarang ini, tak sedikit yang coba-coba untuk memulai proses taaruf meskipun belum ada ijin menikah dari orang tua. Pengkondisian ke orang tua justru malah diakhirkan, tidak dilibatkan sejak awal proses taaruf. Padahal orang tua/wali bagi seorang wanita adalah mutlak keberadaannya, karena beliaulah pengucap lafadz Ijab saat akad nikah yang intinya MENIKAHKAN si akhwat dengan si mempelai pria. Kalau yang berwenang untuk menikahkan saja belum memberi ijin, lalu untuk apa berproses taaruf?

Begitu pula di sisi ikhwan, meskipun di pihak ikhwan tidak memerlukan keberadaan wali, namun jangan lupakan bahwa di pelaminan kelak akan ada orang tua yang mendampingi di kanan dan kiri anda bersama istri anda. Kebahagiaan di hari pernikahan anda kelak bukan hanya milik anda bersama istri anda, namun juga kebahagiaan kedua orang tua anda, keluarga besar anda, dan juga rekan-rekan anda yang lain. Seorang anak yang baik tidak akan tega untuk mengesampingkan­ kebahagiaan orang tua di hari pernikahannya nanti, bukan?

Bila orang tua anda sudah memberi ijin untuk menikah, proses taaruf bisa anda awali dengan langkah selanjutnya di nomer 2. Namun bila ijin menikah belum anda peroleh karena ada persyaratan tertentu dari orang tua, maka bersabarlah, perbanyak puasa dan amal ibadah lain, persiapkan diri sebaik-baiknya sambil memenuhi persyaratan yang orang tua berikan tersebut. Jangan memberikan harapan apabila ada request taaruf yang datang, tolaklah secara halus request taaruf tersebut hingga orang tua memberikan ijin untuk menikah.

2. Sepakati Kriteria Sebelum Memulai Proses
Karena kesibukan atau hal-hal lainnya, kebanyakan orang tua menyerahkan sepenuhnya pada si anak untuk mencari calon yang diinginkan. Meskipun demikian, tak sedikit pula proses yang akhirnya ‘mentok’ karena ternyata calon yang disodorkan si anak belum sesuai dengan yang diharapkan orang tua. Untuk mengantisipasi hal itu, anda perlu berkomunikasi dengan orang tua untuk mencari ‘kesepakatan kriteria’ antara anda dengan orang tua SEBELUM memulai proses taaruf.

Dalam ikhtiar taaruf, sejatinya anda bukan hanya mencari calon pasangan anda, namun anda juga mencarikan calon menantu bagi orang tua anda. Karena itu, carilah titik temu antara kriteria calon pasangan yang anda inginkan dengan kriteria calon menantu yang orang tua inginkan, kriteria mana yang bisa ‘dinego’ dan mana yang tidak. Misalkan kriteria anda seseorang yang sholih/­sholihah dan hafalan quran minimal 1 juz, dan kriteria orang tua anda yang tidak bisa ‘dinego’ adalah seorang yang pendidikannya minimal S1, sesuku, dan memiliki pekerjaan yang layak, maka anda tinggal kombinasikan kriteria-kriter­ia tersebut menjadi : Sholih/­sholihah, hafalan quran minimal 1 juz, pendidikan minimal S1, sesuku, dan memiliki pekerjaan yang layak.

Saya sendiri tidak mau berkomentar panjang lebar mengenai perdebatan penetapan kriteria S1 – non S1, sesuku – tidak sesuku, dan pertentangan yang lainnya. Yang bisa saya sampaikan, dalam pencarian jodoh cukuplah kriteria SHOLIH/­SHOLIHAH jadi kriteria utama dan kriteria-kriter­ia lainnya bisa ‘suka-suka’, mau itu S1, non S1, sesuku, beda suku, dan lain-lain. Jodoh anda kelak bisa saja S1, namun bisa juga non S1. Mungkin jodoh anda sesuku, namun bisa juga tidak sesuku. Berhubung kesepakatan kriteria dengan orang tua anda seperti itu, maka itulah kriteria yang jadi pegangan anda dalam ikhtiar mencari jodoh.

Apabila disederhanakan,­ kriteria pegangan anda dalam ikhtiar pencarian jodoh adalah seseorang yang ‘SHOLIH/­SHOLIHAH’ dan ‘DISETUJUI ORANG TUA’, cukup dua hal itu. Kalau anda bisa menghadirkan calon yang SESUAI kesepakatan kriteria tersebut HAMPIR PASTI calon tersebut akan DITERIMA orang tua anda. Sebaliknya, bila anda menghadirkan calon yang TIDAK SESUAI kesepakatan kriteria tersebut HAMPIR PASTI calon tersebut akan DITOLAK orang tua anda. Jadi, kalau bisa menemukan seseorang yang sholih/­sholihan dan disetujui orang tua, untuk apa mencari yang tidak disetujui orang tua?

3. Ikhtiarkan 4 ‘Yes!’ Menuju Pernikahan
Berdasarkan ‘kriteria kesepakatan’ yang telah disepakati di sebelumnya, anda bisa mulai berikhtiar mencari calon pasangan anda. Agar lebih terjaga, anda bisa meminta bantuan perantara yang tepercaya untuk membantu ikhtiar ini. Kalaupun anda tidak memakai perantara, setidaknya ada pendamping yang menjadi orang ketiga dalam setiap proses taaruf yang anda jalani sehingga setan tidak berkesempatan menjadi yang ketiganya.

Saya ingatkan lagi, anda bukan hanya mencari calon pasangan untuk anda, melainkan juga mencarikan calon menantu bagi orang tua anda. Karena itu, orang tua anda juga berhak atas ‘sesi taaruf’ tersendiri dengan si calon tersebut. Meskipun pada akhirnya anda berproses dengan seseorang yang sesuai dengan ‘kesepakatan kriteria’, mungkin saja ada beberapa hal yang berpotensi menjadi ganjalan pada orang tua. Untuk awalan anda bisa sampaikan biodata lengkapnya ke orang tua, kalau orang tua OK di biodata bisa diagendakan untuk silaturahim di satu waktu, dan berikan kesempatan ke orang tua untuk bertaaruf dengan si calon tersebut. Atau kalau ada metode taaruf lain pun bisa anda pilih, asalkan sesuai adab-adab yang disyariatkan.

Apakah sudah cukup sampai di orang tua anda? Tentu saja belum, karena masih ada orang tua lain yang perlu dilibatkan dalam proses taaruf, yaitu orang tua calon pasangan anda. Anda dengan si calon dan si calon dengan orang tua anda mungkin saja sudah OK. Namun, apakah demikian juga antara anda dengan calon mertua anda? Kemudian, antara orang tua anda dengan orang tua calon anda? Maka, setidaknya perlu ada 4 ‘Yes!’ yang anda dapatkan menuju pernikahan yang anda idam-idamkan:
1. Anda dengan calon anda: Yes!
2. Calon anda dengan kedua orang tua: Yes!
3. Anda dengan orang tua calon anda: Yes!
4. Orang tua anda dengan orang tua calon anda: Yes!

Ikhtiarkan untuk mendapatkan 4 ‘Yes!’ itu dalam proses taaruf, insya Allah bila 4 ‘Yes!’ sudah didapatkan tinggal satu ‘Yes!’ lagi dari Allah saat lafadz ijab kabul terucap di hari pernikahan anda nanti.

Semoga bermanfaat. Wallahua’lam bisshowab.

Kekuatan Terbesar Kita Adalah Ukhuwah

Dikirim : DPRa-PasarMinggu

Islamedia -Dinamika dakwah yang penuh dengan kesulitan, hambatan dan tantangan, membuat tak semua orang dapat menjalaninya. Tak sedikit kemudian orang-orang yang memahami jalan ini tapi kemudian justru jatuh dalam lubang kefuturan, hal ini dikarenakan tak kuatnya pundak dalam menghadapi kerasnya perjalanan dakwah.

Dakwah yang kita jalani hari ini harus kita pahami bahwa tidak untuk ditopang sendirian. Kita membutuhkan teman dalam menjalani jalan ini. Teman- teman yang dapat mengingatkan ketika kita berada dalam kejatuhan dan teman-teman yang mengingatkan kita dalam kesyukuran.

Begitupulalah Rasulullah saw menjelaskan bahwa beruntungnya orang-orang yang berada dalam majelis karena sesungguhnya yang didapatkan di dalamnya bukanlah hanya isi kajian hadist, fiqih atau semacamnya, tapi lebih dari itu yang bernama ukhuwah.

Kefuturan tidak akan memandang setinggi apa ilmu hadist yang dimiliki, tidak akan memandang seberapa besar keilmuan fiqih yang didalami, dan seberapa banyak hafalan al quran dan hadist yang dipunyai tapi kefuturan akan pergi ketika seseorang dan seseorang lainnya saling menguatkan dan mengingatkan bahwa kefuturan akan selalu menghantui.

Itsar adalah proses ukhuwah yang tertinggi. Telah banyak hal ini dicontohkan dari Rasulullah saw sampai dengan hari ini. Menjemput itsar ini tentunya tidaklah mudah tapi kemudian ketika telah mendapatkannya maka akan memberanguskan segala dengki, iri dan penyakit hati lainnya dan inilah hebatnya kekuatan ukhuwah.

Bagaimana ukhuwah kita hari ini? Ukhuwah kita dengan saudara-saudara kita, dengan teman-teman semajelis kita? Sudah sampai dimanakah tingkatannya? Bisa jadi kurangnya pemahaman kita dalam berbagai hal terkait dengan dakwah ini adalah karena kurangnya ukhuwah kita pada orang-orang disekeliling kita, bisa jadi juga karena terlalu egonya kita sehingga melupakan bahwa apapun yang kita miliki hari ini tidak akan pernah berguna tanpa adanya nilai ukhuwah di antara kita.

Wallahualam
Faguza Abdullah

Tips Menyambut Ramadhan Penuh Berkah

Dikirim : DPRa-PasarMinggu

Ilustrasi
Ada banyak hal yang harus diperhatikan dalam penyambutan Ramadhan, diantaranya:
Niat yang baik 
Agar dalam beribadah Ramadhan menjadi indah hendaknya semua kita menanamkan niat yang baik dan tekad yang kuat untuk menjadikan hari-hari  dan malam-malam Ramadhan nanti sebagai ajang untuk meningkatkan ketaatan kepada Allah ta'ala dan menjadikannya sebagai momentum termahal untuk menambahkan segala amal baik dan ketaatan serta menjauhi segala keburukan yang selama ini sangat akrab bahkan melekat dengan diri kita.
Melakukan Taubat
Kenapa kita harus melakukan taubat? Bukankah taubat itu harus dilakukan setiap saat? Benar, kita harus salalu bertaubat kepada Allah karena kita tidak pernah lepas dari perbuatan dosa. Namun saat kita akan bertemu Ramadhan sebagai bulan di dalamnya penuh rahmat dan peluang amal shalih terbentang luas, sehinggga bagi orang yang selama ini gemar maksiat bagaimana dia bisa memanfaatkannya secara optimal bila belum mulai bertaubat? Karena segeralah bertaubat sebelum ajal yang tidak seorang pun tau kapan akan menjemputnya. Taubat harus dilakukan dengan tulus, benar dengan diiringi amal shalih dan bertekad kuat untuk tidak kembali melakukannya lagi.

Melatih Diri
Melatih dan membiasakan diri kita untuk melakukan perbuatan baik sebelum datangnya bulan Ramadhan, khususnya berpuasa, bersedekah, tilawah Al-Quran dan qiyamullail. akan terasa mudah dan ringan dalam melaksanakan segala amalan di bulan Ramadhan bila kita melatih dan membiasakan diri kita untuk melakukan amalan terutama yang bersinggungan langsung dengan ibadah di bulan Ramadhan nanti. karena Rasulullahshalallahu 'alaihi wasallama dan juga para shabatanya senantiasa mempersiapkan diri dan membiasakan amalan tersebut sebelum bertemu langsung bulan yang selalu dirindukan ini. 
Memahami Mulianya Waktu
Dalam Islam dikenal dengan mulainya waktu dan mulainya tempat saat seseorang Muslim melakukan ibadah. Dan diantara Kemuliaan waktu yang sebentar lagi akan menyapa kita adalah bulan suci Ramadhan. Di bulan ini ganjaran dan pahala akan dilipatgandakan. Hari-hari Ramadhan semuanya mulia, terutama saat dalam keadaan berpuasa dan menjelang berbuka, permohonan akan didengar dan doa kita akan diijabah. Karenanya jangan sampai Ramadhan yang menghampiri kita hanya setahun sekali akan berlalu tanpa ada peningkatan pada diri kita dalam beribadah kapada Allah.
Memahami Fiqh Shiyam
Agar semua jenis ibadah di bulan Ramadhan menjadi optimal, hendaknya kita menyiapkan diri dengan bekal pengetahuan tentang fiqh Shiyam, sehingga semua ritual ibadah yang kita lakukan sesuai dengan tuntunan yang diajarkan Allah ta’ala dan Rasul-Nya shallahu ‘alaihi wasallama dan tidak ada sedikit pun yang menyimpang. Bila dilakukan sesuai dengan baik dan benar maka kita akan mendapatkan pahala dan ganjaran dari Allah ta’ala serta buah dari tujuan melaksanakan puasa yaitu menggapai predikat taqwa yang hanya diketahui oleh Allah ta’ala saja dapat kita peroleh.
Betapa banyak orang yang berpuasa namun sebenarnya dia tidak berpuasa karena banyak prilaku yang dapat menghilangkan pahala puasa bahkan membatalkan puasa itu sendiri. Di sisi lain tidak sedikit orang yang tidak boleh berpuasa karena ada udzur/halangan yang dibenarkan syariah namun dia melaksanakannya juga, bukan saja saja puasanya tidak diterima bahkan dia berdosa karena masih tetap berpuasa. Karenanya mari bekali diri kita masing-masing dengan pemahaman dan ilmu pengetahuan tentang fiqh shiyam atau fiqh Ramadhan secara umum sehingga Ramadhan kali ini lebih baik dan lebih bernilai dibanding dengan Ramadhan tahun-tahun lalu.

Lembaran Putih 
Saat memasuki Ramadhan nanti akan terasa indah bila kita siapkan ‘lembaran’ putih lalu kita lekatkan pada diri kita saat bertemu tamu mulia yang hanya dijumpai 1 tahun sekali. Lembaran putih itu kita tujukan untuk:
  • Allah ta’ala, yaitu dengan cara bertaubat taubatan nasuha, taubat yang benar bukan taubat palsu, taubat yang menjadikan kita kecanduan dengan kebaikan dan ketaatan.
  • Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallama dengan cara mengikuti segala perintahnya dan menjauhi larangannya, melestarikan sunnahnya melalui praktik para shahabatnya yang mereka faham betul dengan sunnah Rasul muli, karena mereka hidup bersama Rasul akhir zaman ini Muhammad shallahu ‘alaihi wasallama 
  • Kedua orang tua, kerabat, isteri, suami dan anak-anak untuk selalu meningkatkan perbuatan baik kepada mereka dan pererat silaturrahim.
  • Kepada masyarakat di sekitar kita untuk senantiasa menjadi teladan dan pribadi yang baik, shalih dan bermanfaat bagi mereka.

Semoga Ramadhan nanti benar-benar berbeda dari tahun-tahun lalu, semoga. Allah a’lam
 
Sumber: www.kabarpks.com/

BAYAN
DEWAN SYARI’AH PUSAT
PARTAI KEADILAN SEJAHTERA
NOMOR: 39/K/DSP-PKS/1434
TENTANG
SIKAP DA’I DALAM MENGHADAPI FITNAH DAN UJIAN
***
Kehidupan seorang da’i sarat dengan ujian dan fitnah karena aktifitasnya sarat dengan aksi –aksi menyeru, mengajak kepada kebaikan dan memperbaiki kemunkaran. Aktifitas dakwah tersebut akan menyebabkan pihak tertentu (ahlul bathil) terganggu dan merasa dirugikan. Kehidupan seorang da’i sarat dengan ujian dan fitnah karena itu sunnatu dakwah yang akan menjadi realitas berulang, sebagaimana firman Allah swt dalam beberapa ayat al-Qur’an:
    حَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آَمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ. وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ
Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", lalu kemudian mereka tidak diuji lagi? Dan Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, sehingga Allah mengetahui orang-orang yang benar dan mengetahui orang-orang yang dusta.(QS AlAnkabut 2-3)
أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ الَّذِينَ خَلَوْا مِن قَبْلِكُم مَّسَّتْهُمُ الْبَأْسَاءُ وَالضَّرَّاءُ وَزُلْزِلُوا حَتَّى يَقُولَ الرَّسُولُ وَالَّذِينَ ءَامَنُوا مَعَهُ مَتَى نَصْرُ اللهِ أَلآَ إِنَّ نَصْرَ اللهِ قَرِيبُُ
Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: "Kapankah datangnya pertolongan Allah?" Ingatlah, bahwa pertolongan Allah itu Amat dekat.(Qs Al-Baqarah : 214)

Fitnah dan ujian itu bisa menguatkan keimanan seseorang dan bisa juga menjerumuskan dan menyebabkannya futur dalam dakwah ini. Oleh karena itu, dibutuhkan bayan tentang sikap dan kiat–kiat da’i dalam mengahadapi fitnah, agar setiap kader bisa menyikapinya dengan tepat dan tegar, dan lulus dalam melewati setiap fitnah dan ujian.

9 SIKAP

Ada sembilan sikap seorang da’i ketika diuji Allah swt dengan fitnah, kesembilan penyikapan tersebut adalah:

Pertama, Muhasabah

Sikap pertama yang harus dilakukan adalah bermuhasabah, berintrospeksi diri atas apa yang telah dilakukan. Bermuhasabah adalah perintah Allah swt, sebagaimana firmanNya :
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللهَ إِنَّ اللهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Karenanya bermuhasabah adalah tradisi para sahabat dan generasi setelahnya, karena dengan bermuhasabah, setiap kekhilafan bisa diketahui dan diperbaiki sejak dini.

Sebagaimana taujih Umar bin Khatthab r.a:
حاسبوا أنفسكم قبل أن تحاسبوا
"Evaluasi dirimu sebelum engkau dievaluasi.’


Kedua, Bertaubat

Langkah selanjutnya adalah bertaubat kepada Allah swt. dengan sebenar-benarnya taubat (taubatan nashuha), sebagaimana firman Allah swt.:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا
"Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya).‟ (QS At-Tahrim : 8)

Bertaubat itu memiliki rukun dan prasyaratnya agar taubatnya diterima oleh Allah swt. yaitu sebagai berikut :

A. Yang berkenaan dengan hak-hak Allah swt:

Bertaubat kepada Allah swt, berarti menunaikan hal-hal berikut:

1. Menyesali dosa yang telah dilakukannya. Seorang muslim harus merasa bersalah dengan dosa yang dilakukannya, oleh karena itu ia harus menyesali perbuatannya tersebut.

2. Berkomitmen untuk tidak mengulangi lagi kesalahannya.

3. Memperbaiki diri dengan memperbanyak amal-amal sholeh.

B. Hak-hak manusia:

Bertaubat juga harus menunaikan hak-hak manusia, yaitu:

1. Mengembalikan hak orang lain. Jika kesalahannya tersebut adalah merampas dan mengambil hak orang lain, maka ia harus mengembalikannya kepada si empunya.

2. Melakukan tabayyun (cek & recek) atas setiap informasi yang diterimanya, agar terhindar dari sikap bersu‟udzan kepada orang lain.


Ketiga, Bersabar

Langkah selanjutnya adalah bersabar atas fitnah yang menimpa da’i, dengan berkeyakinan bahwa semua ini adalah ujian dari Allah swt. untuk mengetahui hamba-hamba pilihan-Nya, sebagaimana firman Allah swt dalam ayat-ayat al-Qur’an:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung. (QS Ali Imran: 200)


Keempat, Taqarrub kepada Allah SWT

Setiap da’i harus senantiasa bertaqarrub kepada Allah swt. agar senantiasa dekat dengan Allah swt., karena sesungguhnya maksiat dilakukan karena jauh dari Allah swt. Bertaqarrub yang dimaksud adalah dua hal :

1. Berkomitmen menunaikan kewajiban (fara‟id), seperti sholat lima waktu, puasa ramadhan, dan lain-lain.

2. Memperbanyak ibadah atau amalan sunnah seperti shalat sunnah rawatib, puasa senin dan kamis, sholat tahajjud, tilawah al-Qur’an dan amalan sunnah yang lain, sebagaimana dalam hadits qudsi:
وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ وَمَا يَزَالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ وَيَدَهُ الَّتِي يَبْطِشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإِنْ سَأَلَنِي لَأُعْطِيَنَّهُ وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ
"Tidak ada ibadah yang dilakukan oleh hamba-Ku yang lebih Aku cintai selain ibadah yang Aku wajibkan. Dan hambaku senantiasa bertaqarrub kepadaku dengan ibadah sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku mencintainya, maka Aku yang menjaga pendengarannya, Aku yang menjaga pandangannya, Aku yang menjaga tangannya, Aku yang menjaga kakinya. Jika ia meminta kepadaku, maka Aku akan kabulkan. Dan jika ia berlindung kepadaku, maka Aku melindunginya.‟ (Shahih bukhari, kitab Raqaiq, Bab Tawadhu‟, No. 6021)


Kelima, Menghindari tempat-tempat fitnah

Agar kita tidak terhindar dari fitnah, maka setiap da’i harus menghindari hal-hal atau tempat-tempat yang akan menjerumuskannya ke dalam fitnah.

Di antara hal-hal yang bisa mengakibatkan fitnah adalah sebagai berikut :

1. Harta, dengan segala bentuknya.

Banyak sekali ayat-ayat al-Qur’an yang memberikan warning agar setiap muslim waspada dengan harta karena karakter harta itu dominan menyebabkan pelakunya kepada maksiat.

2. Perempuan

Begitu pula dengan perempuan, seperti halnya harta, perempuan adalah fitnah / ujian bagi manusia, sebagaimana firman Allah swt. :
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ۗ ذَٰلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ
Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia. Dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (QS Aliimran ; 14)
وَاعْلَمُوا أَنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَأَنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ
Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar. (QS Al-anfal ; 28)

3. Hal-hal syubhat

Menjauhi hal-hal yang syubhat termasuk hal yang harus dilakukan da’i agar bisa terhindar atau berhasil melewati ujian, sebagaimana sabda Rasulullah saw:

Dari Nu'man bin basyir r.a berkata : saya mendengar Rasulullah saw bersabda : "Sesungguhnya yang halal itu sudah jelas dan yang haram juga sudah jelas, diantara keduanya ada hal-hal syubhat yang tidak diketahui banyak manusia. Barang siapa yang menghindari hal-hal syubhat, maka ia telah menjaga agama dan kehormatannya. Barang siapa yang melakukan yang syubhat, maka ia telah melakukan yang haram."

4. Teman yang tidak baik

Teman adalah cermin keperibadian sesorang, oleh karena itu jika ingin mengetahui ihwal seseorang, maka bisa diketahui dengan ihwal sahabatnya. Oleh karena itu harus dipastikan karib kita adalah orang-orang sholeh, sebagaimana hadits Rasulullah saw:

Dari Abi Hurairah r.a, ia berkata : Rasulullah saw bersabda : "Setiap orang tergantung pada agama temannya, maka kalian lihatlah siapa yang dia jadikan teman." (Musnad Ahmad, Kitab : Musnad al-muktsirin, Bab : Musnad Abi Hurairah, No. 7685)

5. Berambisi mendapatkan jabatan

Jabatan adalah amanah yang harus dipertanggung jawabkan kepada Allah swt. Oleh karena itu Rasulullah saw. memerintahkan orang yang memegang amanah adalah orang memiliki kualifikasi dan kompetensi. Maka berambisi mendapatkan jabatan adalah perilaku tercela yang harus dihindarkan, sebagaimana sabda Rasulullah saw :

Rasulullah saw bersabda : "Dua serigala yang dilepas di tengah gerombolan kambing itu tidaklah lebih merusak dibanding merusaknya ambisi untuk mendapatkan harta dan jabatan terhadap agama seseorang." (Sunan Tirmidzi, Kitab : Zuhud, Bab : ma ja‟a fi akhdzil mal bihaqqihi, no. 2298)

Maksud hadits tersebut adalah bahwa ambisi meraih harta dan jabatan berdampak merusak agama seseorang lebih dahsyat dari pada dampak kerusakan yang dibuat oleh dua ekor serigala yang menyerang segerombolan domba.


Keenam, Saling memberikan nasihat

Setiap da’i harus terbiasa saling memberi nasihat (tanashuh), karena hanya dengan itulah setiap da’i terbantu untuk memperbaiki diri. Jika yang terjadi sebaliknya; tidak ada budaya tanashuh dan kontrol internal melemah sehingga memungkinkan setiap da’i terperangkap fitnah atau tidak sabar menghadapinya.

Tanashuh dan lapang dada menerima nasihat adalah dua sisi mata uang yang tidak bisa terpisahkan. Oleh karena budaya tanashuh tersebut tidak akan terwujud jika tidak diimbangi dengan sikap lapang dada; maksudnya setiap da’i jika mendapatkan nasihat, ia harus berlapang dada menerima masukan dan nasihat tersebut. Insya Allah swt nasihat itu memperbaiki kita. Sebagaimana sabda Rasulullah saw:

Dari Tamim ad-Dari, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Agama adalah nasihat.” Kami bertanya, "Nasihat untuk siapa?" Rasulullah saw. Bersabda, “Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin dan masyarakat umum." (Shahih muslim, kitab : al-iman, Bab : ad din nashihah, no. 82)


Ketujuh, Terus bekerja melayani

Setiap ujian dan fitnah tidak boleh menyebabkan kita futur dan berhenti berdakwah, tetapi sebaliknya, ujian tersebut harus menjadi cambuk agar setiap da’i lebih bersemangat dalam beramal dan berdakwah.

Kerja-kerja dakwah itu sangatlah luas, di antara amal dakwah yang menyentuh hajat masyarakat adalah dakwah dalam bidang sosial, dakwah dalam bidang kesehatan agar masyarat hidup sehat, berdakwah dalam bidang keamanan agar masyarakat hidup aman dan nyaman, berdakwah dengan membangun infrastruktur agar fasilitas masyarakat terpenuhi sehingga mereka lancar dan leluasa melakukan hajat dan aktifitas hidupnya. Hal ini sebagaimana firman Allah swt:
وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ
Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) yang mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS At-Taubah: 105)


Delapan, Husnudzan terhadap ikhwah dan dakwah

Setiap da’i senantiasa berhusnudzan terhadap ikhwah dan dakwah. Setiap kali mendengar kabar tidak baik tentang seorang akh atau dakwah, maka harus mengedepankan husnudzan, hingga mendapatkan informasi / penjelasan dari dakwah.

Prinsip berhusnudzan ini yang diperintahkan Rasulullah saw. sebagaimana firman Allah swt:
لَوْلَا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بِأَنْفُسِهِمْ خَيْرًا وَقَالُوا هَٰذَا إِفْكٌ مُبِينٌ
"Tidakkah sebaiknya ketika kamu mendengar (berita bohong) itu orang-orang mukminin dan mukminat bersangka baik terhadap diri mereka sendiri." (QS An-Nur: 12)

Apalagi jika informasi bersumber dari orang fasiq, maka kita tidak boleh percaya sebelum tabayyun terhadap berita tersebut, sebagaimana firman Allah swt:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا أَنْ تُصِيبُوا قَوْمًا بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَىٰ مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِينَ
Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.(QS al-Hujarat: 6)


Sembilan, Istiqomah dalam jama’ah

Ujian dan fitnah adalah fitrah dalam perjuangan dan dakwah, sebagaimana firman Allah swt:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung. (QS Ali Imron:200)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
Hai orang-orang yang beriman, ruku'lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan perbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan. (QS Al Hajj:77)

Oleh karena itu setiap ujian dan fitnah itu tidak boleh membuat kader futur, tetapi sebaliknya, harus membuat tetap istiqomah dalam dakwah ini.

***

Jakarta , 26 Rajab 1434 H
5 Juni 2013 M

DEWAN SYARI’AH PUSAT
PARTAI KEADILAN SEJAHTERA

DR. KH. SURAHMAN HIDAYAT, MA.
KETUA 

:: Info PKS

:: PASAR MINGGU

Save GAZA


PKS OK