Rusmini Bintis
Medan - Depok


Setiap yang bernyawa pasti akan mengalami kematian. Termasuk saya, dan pembaca tulisan ini. Semuanya akan binasa, kecuali Allah. Saat kita bertakziah, kematian seolah sangat dekat dengan kita. Berbagai pertanyaan menggelayuti saat mengingat kematian. Kapankah giliran kita tiba? Dalam kondisi seperti apa? Bisakah kita menjawab pertanyaan Malaikat Munkar Nakir? Mendapat nikmat atau azab kubur?

Ingin menghindar dari kematian? Tidak mungkin. Seluruh manusia yang telah wafat, pastilah ingin kembali ke dunia ini jika ia mendapat siksa. Namun di alam sana, juga pasti ada orang-orang yang melambai- lambaikan tangannya kepada kita yang masih hidup. Mereka berkata dengan wajah berseri, “Wahai kawanku, istiqomahlah dan berbahagialah atas segala karunia yang menantimu”. 

Alangkah elok saat kita meninggal dalam kondisi husnul khatimah, syahid di jalan perjuangan dakwah. Husnul Khatimah tidak melulu dalam kondisi badan tiada luka. Ingatlah kisah Utsman yang wafat dengan bermandikan darah.  Pada waktu Ashar di Hari Jum’at 8 Dzulhijjah 35 H, para pemberontak telah menusuk kening Utsman hingga tombak masuk ke kerongkongan, kemudian pedang diayunkan dan menebas tubuh sahabat Rasul itu. Utsman roboh tak terperih. Bahkan dengan beringas Amr bin Hamaq menindih dada Utsman dengan menghunjamkan 9 tusukan.

Begitu pula sepenggal akhir hidup Ali Bin Abi Thalib. Pada 19 ramadhan tahun 40 H, saat Ali sedang shalat dan ingin mengangkat kepala dari sujudnya, sebilah pedang beracun terayun dan mendarat tepat di atas dahinya. Darah mengucur deras membahasi mihrab masjid. “Fuztu wa rabbil ka’bah. Demi pemilik Ka’bah, aku telah meraih kemenangan.”, kalimat  Ali di tengah cucuran darah yang mengalir.

Sahabatku.. demikianlah jalan para pejuang. Hidup di dunia adalah waktu untuk bekerja, negeri akhirat adalah tempat istirahat yang sesungguhnya. Kondisi ini seirama dengan lirik lagu yang dipopulerkan Izzatul Islam dengan tajuk “Kami pejuang Keadilan”

Selama nyawa di kandung badan
tak selangkahpun surut ke belakang.
Karena jiwa telah direlakan,
hanya Allah menjadi tujuan.
Terus bekerja tumpas kedzaliman
 karena kita pejuang keadilan.

Merupakan anugerah saat Allah takdirkan kita tergabung dalam barisan dakwah Partai Keadilan Sejahtera. Walaupun kini media massa gencar memprovokasi agar kita pecah sebagaimana dahulu yang dilakukan orang-orang Quraiys, namun lihatkah panji Islam benderang di Madinah hingga ke pelosok dunia.

Semakin kenal PKS, aku semakin ingin selamanya ada di sini. Menunggu kejayaan Islam sembari terus berjuang hingga ajal datang. Aku tidak peduli akankah aku bisa melihat kejayaan itu atau tidak, namun satu yang pasti aku ingin menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses panjang perjuangan.

Aku yakin, apa yang aku rasakan juga dirasakan oleh kader yang lain. Isu yang melanda PKS tidak lebih besar dari sekedar sandungan batu kecil. Karena ia berada di luar bangunan yang dapat dijadikan sarana pengokohan kader. Jauh lebih bermasalah jika hari gini masih ada kader yang liqo’ nya bolong- bolong tanpa alasan syar’i. Mengapa? Karena PKS kuat dengan kadernya. Semakin kokoh diri setiap kader, sebesar itu pula lah kekuatan jama’ah.

Di luar sana, bisa jadi yang membenci PKS sedang tertawa ria dengan melihat Ustadz Luthfi Hasan Ishaaq mendekam di sel.  Kalau saja mereka tahu isi hati Ustadz Lutfi, tentu mereka akan tercengang. Penulis yakin, jauh di lubuk hati ustadz Lutfi justru kasihan kepada orang- orang yang mendzaliminya.

Sebagaimana do’a Rasulullah saat dizalimi di Thaif, beliau berdo’a,  “Aku menginginkan semoga Allah berkenan mengeluarkan dari anak keturunan mereka generasi yang menyembah Allah semata, tidak menyekutukan-Nya, dengan sesuatu pun.“ Maha suci Allah, sesungguhnya keimanan menumbuhkan kasih sayang, bahkan terhadap musuh sekalipun.

Biar pun orang-orang memandang PKS dengan hati sangar, tapi kader-kader PKS harus memandang semuanya dengan hati kasih sayang dan penuh cinta. Karena dengan cinta yang memungkinkan kita merubah dunia menjadi sepenggal Firdaus. Begitu ungkapan Ustadz Anis Matta.

Saatnya kali ini PKS bersabar dalam ujian. Do’a kita bersama agar pasca pemilu 2014 PKS kembali bersabar dalam kemenangan. Amiin... Optimisme itu harus ada. Karena berfikir positif akan memberikan kekuatan dalam perjuangan. Sudah begitu banyak contoh kemenangan yang diraih dengan semangat menggelora dalam dada.

Ada kisah para sahabat saat perang Badar, pasukan Sultan Al Fatih, dan kemerdekaan Indonesia juga tidak lepas dari optimisme dalam berjuang. Enyahkan saja siuh-siuh merdu yang merusak semangat kita. Lanjutkan perjuangn kita dimanapun posisi kita dan apapun peran yang kita mainkan.

Semoga kita semua wafat husnul khatimah dalam barisan dakwah ini. Biar raga terluka, pikiran terkuras, mata terjaga, telinga lelah atas segala luka, namun kita tetap solid dalam jama’ah dakwah ini. Kalau tidak di PKS, dimana lagi harapan kejayaan Islam itu masih ada? Karena PKS adalah wasilah dalam perjuangan kita. Tugas kita menjaga dan mengisinya dengan pengabdian terbaik yang kita punya. Hingga ajal merenggut sukma jiwa, dan gelar syahid di mata Allah azza wajalla..


*penulis: @MinieBintis on twitter

"Ats-Tsabat"
Kami selalu membangun dan berkemauan
Kami pasti akan mati tapi kami pantang hina
Kami punya tangan dan mau bekerja
Kami punya hari esok dan harapan
Dan Kami selamanya orang merdeka dan pantang menyerah


Saat ini kita memasuki era di mana tantangan dan peluang sama-sama terbuka. Dapat binasa lantaran tidak tahan menghadapi tantangan atau ia berjaya karena mampu membuka pintu peluang seluas-luasnya. Karena itu kita dituntut untuk bersikap tsabat dalam kondisi dan situasi apapun. Senang maupun susah, sempit ataupun lapang. Tidak pernah tergoda atau tertekan untuk lari dari jalan dakwah.



Tsabat bermakna teguh pendirian dan tegar dalam menghadapi ujian serta cobaan di jalan kebenaran. Dan tsabat bagai benteng bagi seorang kader. Ia sebagai daya tahan dan pantang menyerah. Ketahanan diri atas berbagai hal yang merintanginya. Hingga ia mendapatkan cita-citanya atau mati dalam keadaan mulia karena tetap konsisten di jalan-Nya.



Dalam Majmu’atur Rasail, Imam Hasan Al Banna menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan tsabat adalah orang yang senantiasa bekerja dan berjuang di jalan dakwah yang amat panjang sampai ia kembali kepada Allah SWT. dengan kemenangan, baik kemenangan di dunia ataupun mati syahid.



“Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah SWT. maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada pula yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merubah janjinya”. (Al- Ahzab: 23).



Sesungguhnya jalan hidup yang kita lalui ini adalah jalan yang tidak sederhana. Jauh, panjang dan penuh liku apalagi jalan dakwah yang kita tempuh saat ini. Ia jalan yang panjang dan ditaburi dengan halangan dan rintangan, rayuan dan godaan. Karena itu dakwah ini sangat memerlukan orang-orang yang memiliki muwashafat ‘aliyah, yakni orang-orang yang berjiwa ikhlas, itqan (profesional) dalam bekerja, berjuang dan beramal serta orang-orang yang tahan akan berbagai tekanan. Dengan modal itu mereka sampai pada harapan dan cita-citanya.



“Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan. Akan tetapi sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir yang memerlukan pertolongan dan orang-orang yang meminta-minta dan memerdekakan hamba sahaya, mendirikan shalat dan menunaikan zakat dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji dan orang-orang yang bersabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar imannya dan mereka itulah orang-orang yang bertaqwa”. (Al Baqarah: 177).



Disamping itu, dakwah ini juga senantiasa menghadapi musuh-musuhnya di setiap masa dan zaman sesuai dengan kondisinya masing-masing. Tentu mereka sangat tidak menginginkan dakwah ini tumbuh dan berkembang. Sehingga mereka berupaya untuk memangkas pertumbuhan dakwah atau mematikannya. Sebab dengan tumbuhnya dakwah akan bertabrakan dengan kepentingan hidup mereka. Oleh karena itu dakwah ini membutuhkan pengembannya yang berjiwa teguh menghadapi perjalanan yang panjang dan penuh lika-liku serta musuh-musuhnya. Merekalah orang-orang yang mempunyai ketahanan daya juang yang kokoh.



Kita bisa melihat ketsabatan Rasulullah SAW menghadapai berbagai tantangan dakwah...

‘Demi Allah, wahai pamanku seandainya mereka bisa meletakkan matahari di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku agar aku meninggalkan dakwah ini. Niscaya tidak akan aku tinggalkan urusan ini sampai Allah SWT memenangakan dakwah ini atau semuanya akan binasa’.

Demikian pula para sahabatnya ketika menjumpai ujian dan cobaan dakwah, mereka tidak pernah bergeser sedikitpun langkah dan jiwanya. 



Kita dapat juga saksikan peristiwa yang menimpa umat Islam pada masa Khalifah Al Mu’tsahim Billah tentang fitnah dan ujian ‘khalqul Qur’an’. Imam Ahmad bin Hambal sangat tegar menghadapi ujian tersebut dengan tegas ia menyatakan bahwa Al Qur’an adalah kalamullah, bukan makhluk sebagaimana yang didoktrin oleh Khalifah. Dengan tuduhan sesat dan menyesatkan kaum muslimin Imam Ahmad bin Hambal menerima penjara dan hukum pukulan dan cambukan. Dengan ketsabatan beliau kaum muslimin terselamatkan aqidah mereka dari kesesatan.



Demikian pula kita merasakan ketegaran Imam Hasan Al Banna dalam menghadapi tribulasi dakwahnya. Ia terus bersabar dan bertahan. Meski akhirnya ia pun menemui Rabbnya dengan berondongan senajata api. Dan Sayyid Quthb yang menerima eksekusi mati dengan jiwa yang lapang lantaran aqidah dan menguatkan sikapnya berhadapan dengan tiang gantungan. Beliau dengan yakin menyatakan kepada saudara perempuannya, ‘Ya ukhtil karimah insya Allah naltaqi amama babil jannah. (Duhai saudaraku semoga kita bisa berjumpa di depan pintu surga kelak’).


***



Saat ini kita memasuki era di mana tantangan dan peluang sama-sama terbuka. Dapat binasa lantaran tidak tahan menghadapi tantangan atau ia berjaya karena mampu membuka pintu peluang seluas-luasnya. Karena itu kita dituntut untuk bersikap tsabat dalam kondisi dan situasi apapun. Senang maupun susah, sempit ataupun lapang. Tidak pernah tergoda atau tertekan untuk lari dari jalan dakwah.



Tsabat tidak mengenal waktu dan tempat, dimana pun dan kapan pun. Kita tetap harus mengusung misi dan visi dakwah kita yang suci ini. Untuk menyelamatkan umat manusia dari kehinaan dan kemudharatan. Dengan jiwa tsabat ini kader dakwah memiliki harga diri di mata Allah SWT. maupun di mata musuh-musuhnya. Melalui sikap ini seorang kader lebih istimewa dari pada kebanyakan orang. Dan ia menjadi citra yang tak ternilai harganya.



Imam Hasan Al Banna menegaskan,

‘Janganlah kamu merasa kecil diri, lalu kamu samakan dirimu dengan orang lain. Atau kamu tempuh dalam dakwah ini jalan yang bukan jalan kaum mukminin. Atau kamu bandingkan dakwahmu yang cahayanya diambil dari cahaya Allah dan manhajnya diserap dari sunnah Rasul-Nya dengan dakwah-dakwah lainnya yang terbentuk oleh berbagai kepentingan lalu bubar begitu saja dengan berlalunya waktu dan terjadinya berbagai peristiwa. Kuncinya adalah Tsabat dalam jalan dakwah ini’.

Kalau begitu bagaimana bangunan tsabat yang kita miliki?
sumber: http://www.pkspiyungan.org

Komitmen Dai Sejati

Dikirim : DPRa-PasarMinggu

dakwatuna.com - Berdakwah merupakan profesi mulia yang langsung direkomendasikan oleh Allah melalui Rasulullah. Tujuan utama dari aktivitas mulia ini adalah mengajak manusia untuk menyembah Allah sebagai satu-satunya Robb -Pencipta, Pengatur dan Pemilik semesta. Oleh karena mulianya aktivitas ini, maka yang menjalanipun hanya golongan terpilih yang dimuliakan oleh Allah. Bukan sembarang orang, bukan pula semua orang.

Rambu-rambu dakwah tergambar jelas dalam lima pilar. Allah adalah Tujuan, Rasul adalah Teladan, Al Qur’an sebagai Petunjuk, Jihad sebagai Jalan dan Mati di Jalan Allah sebagai Cita-cita Tertinggi. Jika kelima rambu-rambu ini tidak dilaksanakan secara sempurna, maka dakwah tidak akan berjalan sebagaimana awal diturunkannya.

Oleh karenanya, mereka yang dengan sukarela memilih menjadi Da’i harus memahami dengan baik apa saja yang telah menjadi komitmen mereka. Agar pekerjaan mulia tersebut dilaksanakan secara sempurna dan berhasil sesuai dengan apa yang digariskan-Nya. Berhasil bukan saja terjadi ketika objek dakwah mengikuti apa yang diserukan. Karena wewenang untuk memberi hidayah hanya ada pada Allah. Sehingga keberhasilan dakwah terletak pada seberapa murninya Da’i  mengantarkan materi dakwah kepada objek dakwah.

Dalam rangka memberikan gambaran lengkap tentang bagaimana seharusnya seorang Da’i, Muhammad Abduh menulis sebuah kitab berjudul Madza Ya’ni Intima’i lid Da’wah. Buku setebal 256 halaman yang diterjemahkan oleh Asep Sobari Lc dengan judul Komitmen Da’i Sejati. Di samping memberikan gambaran utuh tentang dakwah, buku terbitan Al-I’tishom ini juga didedikasikan untuk para dai yang tergabung dalam kafilah dakwah Ikhwanul Muslimin yang diinisiasi oleh Imam Hasan Al Banna.

Di dalamnya dibedah pemikiran-pemikiran Al Banna dalam dunia dakwah. Sebagaimana difahami, bahwa Ikhwanul Muslimin merupakan gerakan dakwah yang berpengaruh internasional. Lintas negara dan budaya. Sehingga islam yang ditafsirkan secara ‘khusus dan terbatas’ oleh beberapa kalangan pemahaman kaum muslimin, bisa menyentuh ke berbagai lini kehidupan. Baik di pemerintahan, ekonomi, budaya, olahraga dan sendi kehidupan lain.

Dakwah yang dimulai dari warung-warung kopi di Mesir ini, mengalami pertumbuhan yang sangat pesat hingga akhirnya menyentuh kalangan berdasi, profesional muda bahkan gedung parlemen. Dimana oleh sebagian kalangan muslimin, gedung parlemen masih menjadi ‘tempat haram’ yang tidak boleh disentuh oleh para Da’i.

Buku ini terdiri dari empat bab. Bab pertama menjelaskan tentang Karakteristik Dakwah dan Komitmen Da’i. Dimulai dengan analisis lapangan terhadap objek dakwah dilanjutkan dengan penjelasan mengenai tujuan, sasaran dan sarana dakwah. Dalam bab ini, banyak disinggung metode-metode dakwah yang digagas oleh Ikhwanul Muslimin sebagaimana dikatakan oleh pencetusnya, “Untuk itu, sejak baru tumbuh dewasa, saya mewakafkan diri  untuk satu tujuan, yakni membimbing manusia menuju Islam sebagai hakikat kebenaran dan perbuatan.” Lanjut beliau, “Oleh sebab itu, gagasan Ikhwanul Muslimin adalah murni islami, baik tujuan maupun sarana-sarananya, dan sama sekali tidak berkaitan dengan unsur lain di luar islam.” (Hal 12)

Dalam bab berikutnya dijelaskan secara detail tentang Sarana dan Persiapan dakwah. Dalam bab ini, titik tekannya ada pada persiapan seorang individu sebelum terjun ke dalam kancah dakwah. Persiapan tersebut terangkum dalam satu kata ampuh, Rabbaniyah. Satu kata inilah yang kemudian terderivasi dalam banyak makna. Meliputi, iman yang mendalam, kemauan yang kuat, sungguh-sungguh dan optimis, menjadi teladan bagi orang lain, lembut dan bersahaja, mampu menjaga rahasia, teguh dalam menepati janji, sanggup berkorban, manajemen waktu dan hidup teratur.

Karakter inilah yang kelak membuat seorang muslim berhasil dalam setiap sisi kehidupannya. Baik kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat, bisnis terlebih lagi akhiratnya, “Oleh sebab itu, semangat tinggi dan kesungguhan harus kita miliki jika ingin menunaikan semua amanah dan melaksanakan tanggung jawab untuk meraih tujuan.” (Halaman 87)

Setelah membahas karakter mulia yang harus dipraktekkan oleh Da’i, Penulis membahas Kewajiban-kewajiban Terhadap Dakwah. Bahwa Da’i harus proaktif. Bukan berpangku tangan atau menunggu perintah dari Qiyadah. Dijelaskan pula beberapa motivasi agar Da’i aktif melakukan ekspansi ke seluruh lini agar dakwah tersampaikan kepada seluruh lapisan masyarakat.

Motivasi-motivasi tersebut adalah : Taat kepada Allah dan RasulNya, Cinta kepada sesama dan khawatir mereka akan masuk neraka, Melaksanakan kewajiban dakwah dan menghindari dosa karena lalai, Mendambakan pahala dan ganjaran, Mencari alasan untuk bertanggungjawab di hadapan Allah, Dorongan kuat untuk melawan kerusakan yang merajalela dalam masyarakat, Melawan hegemoni pendukung kebatilan, Lebih banyaknya kewajiban dibanding waktu yang dimiliki dan Fenomena bersimbah darahnya kaum muslimin di berbagai belahan bumi. (Hal 147-151)

Buku ini menjadi semakin lengkap ketika diakhiri dengan bahasan tentang Rintangan dan Bahaya yang senantiasa menghiasi dakwah. Bab ini semakin menguatkan, bahwa ketika Da’i terjun ke dalam arena dakwah, maka Mereka harus siap mengorbankan semua yang dimiliki. Mulai dari harta, waktu, seluruh potensi dan satu-satunya nyawa yang Allah titipkan.
Sehingga, apapun badai yang tengah dialami oleh dakwah, tidaklah menghasilkan apa-apa melainkan bertambahnya kekuatan. Karena sejatinya, pelaut yang handal tidak akan dilahirkan dari sungai yang mengalir tenang. Dan benarlah, bahwa semakin dahsyatnya badai, maka kemenangan yang dijanjikan itu sudah di rahang pintu. Bahwa badai-badai ‘buatan’ itu, semakin meyakinkan, bahwa Allahlah yang menyuruh berdakwah, maka Allah pulalah yang akan menguatkan para Da’i.

Meski diterjemahkan sekitar delapan tahun yang lalu, buku ini sangatlah sesuai dengan apa yang dialami oleh dakwah masa kini. Terlebih lagi ketika dakwah di berbagai lini tengah diserang bertubi-tubi oleh musuh dengan berbagai isu. Buku ini seakan-akan menyapa para Da’i dengan lembut, “Tetaplah bertahan dan bersiap siaga. Beginilah jalan dakwah. Ada Ujian yang datang melanda, ada perangkap menunggu mangsa. Bersabarlah. Kuatkan pegangan kalian ke langit, agar kokoh di bumi-Nya. Cukuplah Allah sebagai satu-satunya Pelindung dan Pembela.”

Ketika Badai Benci dan Badai Cinta Bertemu

Dikirim : DPRa-PasarMinggu

dakwatuna.com - Siapapun Anda, apapun baju kebanggaan Anda, serumit apa pun masalah Anda, seberapa besar pun badai kebencian atau kecintaan Anda, marilah sejenak bersama saya menundukkan hati, menenangkan pikiran, kita dengarkan sapaan dari langit, dari Allah swt. Zat Yang Maha Menggenggam Hati manusia, merubah yang benci jadi cinta dan yang cinta jadi benci. Allah berfirman:

عَسَى اللَّهُ أَنْ يَجْعَلَ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَ الَّذِينَ عَادَيْتُمْ مِنْهُمْ مَوَدَّةً وَاللَّهُ قَدِيرٌ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang antaramu dengan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka. Dan Allah adalah Maha Kuasa. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Mumtahanah: 7)
***

Saudaraku yang dirahmati Allah…
Setelah membaca ayat di atas, kira-kira apa kesan yang Anda dapat? Bagaimana perasaan Anda terhadap orang yang selama ini membenci dan memusuhi Anda? Bagaimana perasaan Anda terhadap orang atau sesuatu yang selama ini Anda benci dan Anda musuhi? Bagaimana pula perasaan Anda terhadap orang yang selama ini mencintai dan begitu dalam mencurahkan perhatiannya kepada Anda? Bagaimana perasaan Anda terhadap orang atau sesuatu yang selama ini Anda cintai dan Anda sayangi?

Silahkan Anda benci, siapapun yang Anda tidak suka atau apapun yang Anda tidak suka? Silahkan Anda cintai, siapapun yang Anda suka atau apapun yang Anda suka?

Namun, sadarkah Anda bahwa benci dan cinta itu muncul karena ledakan emosional sesaat ketika perasaan seseorang tersentuh. Ia berawal karena ada energy pendorong yang mem-push kita untuk membenci dan mencintai itu datang secara beruntun. Dan secara reflex, kita akhirnya membenci atau mencintai sesuatu/seseorang. Jika ia dibiarkan terakumulasi dalam beberapa tenggang waktu dan faktanya energy itu terus-menerus mem-push kita, maka kuota kebencian  atau kecintaan akan semakin bertambah. Yang cinta jadi benci, dan yang benci jadi cinta.

Kebencian itu ibarat badai topan. Ia akan mengerahkan segala kekuatan yang dimilikinya. Lahir dan batinnya. Ia akan datangi semua gedung, bahkan gedung pencakar langit pun ia akan hampiri. Ia akan hantam gedung yang kokoh tegak berdiri itu dengan bertubi-tubi. Tanpa ampun. Seakan tanpa mengenal lelah. Tanpa jeda waktu. Tanpa mengenal usia, seakan hidup selamanya. Bahkan tanpa mengenal kehidupan dan kematian. Perhitungan dan pertanggungjawaban.

Maka, bisa jadi, sedikit demi sedikit salah satu dari atapnya copot, tiangnya mulai retak, kaca di jendelanya pecah-pecah dan akhirnya angin topan pun mendesak memasuki area dalam gedung megah itu, hingga bisa memporak-porandakan semua yang ada di dalam. Dan mungkin, seiring berjalannya waktu, gedung itu juga akan runtuh. Karena diterpa badai kebencian.

Kecintaan juga demikian. Badai cinta juga akan memobilisasi semua potensinya. Badai cinta itu juga hakikatnya terdiri dari beberapa formula pendorong yang terakumulasi hingga menjadi cinta yang utuh dan matang serta tidak tergantikan. Pertama cinta karena al-istihsan (anggapan baik). Kedua cinta karena takjub (at-ta’ajjubu). Cinta karena ingin selalu dekat dan ada di sisinya atau rindu yang menggebu (hayyamahul hubbu). Dan cinta karena kasmaran (al-‘usyqu). Pikiran seseorang pada level ini akan selalu dipenuhi oleh cinta, hati dan pikirannya. Tidak ada ruang dalam hati dan pikirannya untuk membenci, sekalipun orang lain sebenarnya sudah menampakkan indikasi-indikasi kebencian mereka.

Celakanya, manusia banyak terjebak untuk tidak melibatkan akal pikirannya, untuk berpikir secara jernih, untuk mengkalkulasikan dengan detail, kerugian apa jika ia membenci atau mencintai sesuatu atau seseorang? Keuntungan apa jika ia membenci atau mencintai dan menyayangi sesuatu atau seseorang? Lalu, apakah keuntungan dan kerugian itu akan berkepanjang hingga hari di saat kita bertemu dengan Allah (mumtaddah ila yaumil qiyaamah) ?

Atau mengajak akal pikirannya merenung sejenak, menanyakan sebenarnya energi apa yang mendorongnya untuk begitu membenci atau mencintai sesuatu atau seseorang?
Saudaraku yang dirahmati Allah…

Kita hidup di era interplaniter, disaat cinta dan benci menjadi semu. Cinta dan benci sering terbeli oleh materi. Terkapitalisasi dalam bentuk jabatan publik dan kekuasaan. Tersandera dan terpenjara dalam satu komunitas tertentu. Bukan cinta dan benci dengan standar universal.

Inilah yang menjadikan saya tertarik untuk kembali membuka lembaran-lembaran buku karya DR. Khalid Jamal yang bertajuk AJARI AKU CINTA. Beliau mengajak kita untuk membayangkan jika seandainya cinta itu makhluk hidup seperti manusia, maka saat ini ia pasti akan berteriak lantang di hadapan kita, karena CINTA itu sekarang sedang mengalami penderitaan.

Beliau menggambarkan dalam bukunya tersebut, “Penderitaan Cinta itu sekarang terjadi saat melihat manusia melakukan tindakan-tindakan bodoh mengatasnamakan aku (cinta).  Mereka merampas kehormatan orang lain atas namaku. Jika semut itu berteriak, mengingatkan seluruh bangsanya atas bahaya yang akan menimpa mereka ketika lewat satuan inspeksi tentara Sulaiman dengan berkata: “Berkatalah seekor semut: “Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.” (An-Naml: 18).  Maka, aku (cinta) juga berteriak atas nasibku dan nasib semua orang yang mengatasnamakan cinta untuk berbuat ‘kerusakan’ di atas bumi ini.”

Jadi, sebenarnya dalam lembaran kebencian itu, ada ‘lembaran-lembaran cinta’ yang sengaja ditutupi-tutupi atau tersembunyi. Begitu juga dalam lembaran cinta, ada ‘lembaran-lembaran kebencian’ yang juga sengaja ditutup-tutupi atau tersembunyi.

Hanya saja yang jadi pertanyaan, “Siapa yang menyuruhnya menutupi lembaran cinta itu, disaat kebencian meledak? Siapa sebenarnya yang menyuruh menutupi lembaran kebencian itu, disaat cinta meledak?”

Jika yang menunjukkannya adalah Zat Yang Maha Pencipta dan Maha Kasih Sayang, maka ia berada dalam jalan kebenaran. Begitu juga jika yang mengajarkan menutupi cinta dan benci itu Rasul-Nya, maka ia dalam keselamatan. Sehingga manusia akan membenci apa yang dibenci Allah dan Rasul-Nya, dan mencintai apa yang dicintai Allah dan Rasul-Nya. Membenci orang-orang yang dibenci Allah dan Rasul-Nya dan mencintai orang-orang yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Inilah barometer yang tepat sasaran dan tepat guna.

Kalau manusia sadar dengan hakikat ini, maka potensi berubahnya kebencian menjadi cinta, atau cinta menjadi kebencian, bukanlah suatu yang mustahil. Dan itulah yang diisyaratkan dalam surat Al-Mumtahanah di atas.  “Mudah-mudahan Allah menimbulkan kasih sayang antaramu dengan orang-orang yang kamu musuhi di antara mereka. Dan Allah adalah Maha Kuasa. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Mumtahanah: 7)

Masih segarkah dalam ingatan Anda, berapa banyak dari pembesar kota Mekkah yang membenci nabi agung kita Muhammad saw? Apakah dulu Umar bin Khattab tidak membenci Rasulullah? Bagaimana dengan Khalid bin Walid, Hamzah, Suroqoh? Abu Sufyan?

Bahkan, satu kota Thaif yang dulu begitu membenci Rasulullah, menolak dakwah Rasulullah, mencerna dan menghina Rasulullah, melukai Rasullah dengan lemparan batu hingga tubuh Rasulullah berlumuran darah, mengusir Rasulullah dari kota mereka, akhirnya semua penduduk Thaif masuk Islam dan bahkan keislaman mereka jauh lebih kuat dari umumnya para penduduk Mekkah yang sudah masuk Islam. Hal itu dibuktikan ketika hembusan fitnah kekufuran mewabah di setiap kota Mekkah dan Madinah sepeninggal Nabi Muhammad saw., namun di kota Thaif tidak ditemukan satupun orang yang murtad.
Subhaanallah….

Mereka yang dulu membawa bendera kebencian terhadap Rasulullah dan dakwahnya, akhirnya menjadi sosok-sosok yang mengalirkan cinta mereka dengan deras kepada Rasulullah dan dakwahnya hingga akhir hayat mereka.

Tidakkah Anda membayangkan bahwa bisa jadi orang yang Anda benci, nanti akan bertemu dengan kita di surga, ketika ia kembali pada jalan kebenaran. Begitu juga, tidakkah Anda membayangkan bahwa bisa jadi orang yang kita cintai, akan kita temukan di neraka, ketika jauh dari hidayah Allah dan Rasul-Nya?

Maka sapalah mereka yang membenci Anda dengan sapaan cinta. Tataplah mereka yang membenci Anda dengan tatapan cinta. Taburkan doa-doa hidayah atas jiwa-jiwa yang dipenuhi dengan kebencian. Lidah boleh bicara, tangan boleh bergerak, kaki boleh melangkah, otak boleh berpikir, namun yang menggenggam hati hanyalah Allah. Janganlah ada kebencian yang membabi buta, sehingga kita menganggap hanya ‘dia’ seseorang (hingga akhir hayat kita) yang harus masuk ‘jahannam’. Atau jangan ada kecintaan yang membabi buta, sehingga kita menganggap hanya ‘dia’ seseorang (hingga akhir hayat kita) yang harus masuk ‘surga’. Semua harus di bawah bimbingan Allah dan Rasul-Nya.

"PKS DIY dan Jateng Siap Hadapi Pemilu 2014"

Yogyakarta - Presiden PKS Anis Matta direncanakan memberikan arahan pemenangan PEMILU 2014 kepada lebih dari 2000 calon anggota DPRD dari PKS seluruh DIY dan Jawa Tengah. Acara yang akan digelar di Gedung Jogja Expo Center (JEC) Ahad (02/06/2013) mulai 09.00 pagi  hingga jam 15.00 ini akan diisi berbagai kegiatan antara lain arahan presiden PKS dan Ketua DPP Wilda JatiJaya Cahyadi Takariawan serta pembekalan pemenangan Pemilu.

Humas DPW PKS DIY Arif Rahman Hakim mengatakan acara ini dilaksanakan sebagai ajang konsolidasi menyeluruh terhadap calon anggota dewan PKS dalam rangka peningkatan soliditas dan pembekalan Caleg PKS dalam rangka pemenangan PKS di 2014. “Acara ini diadakan untuk konsolidasi PKS DIY dan Jateng jelang Pemilu 2014,” ungkapnya.

Dalam rangkaian kunjungan Presiden PKS Anis Matta Lc kali ini rencananya juga akan disemarakkan dengan lomba makan sate klathak bersama insan media jam 13.00 di kawasan Jejeran, Pleret, Bantul. “Acara lomba makan sate klathak ini juga untuk keakaraban dengan insan media baik lokal maupun nasional di DIY,” imbuh lelaki yang akrab dipanggil ARH.

Anggapan sebagian pengamat dan masyarakat bahwa PKS saat ini tidak solid justru terbantahkan dengan adanya acara ini. “Kami ingin menyampaikan kabar gembira kepada masyarakat bahwa PKS saat ini justru lebih solid dan justru semakin banyak yang bersimpati dalam menghadapi Pemilu 2014,” pungkas ARH yang juga Anggota DPRD DIY Dapil Bantul ini.

Sementara itu, ketua panitia pembekalan Caleg PKS Se DIY Jateng, Fitra AlFarisi menyampaikan kesiapannya terkait acara tersebut. “InsyaAllah kami siap untuk menyambut para Caleg dan mensukseskan acara pembekalan tersebut” Ujarnya.
 
Sumber: http://www.pkspiyungan.org/2013/06/ke-jogja-anis-matta-beri-pembekalan.html

PKS OK

:: Info PKS

:: PASAR MINGGU

Save GAZA


PKS OK