Alkisah, seorang ayah marah besar
saat anak sulungnya diketahui hadir di salah satu masjid, untuk
mengikuti pengajian yang akan disampaikan oleh Ustaz Hasan Al-Banna.
Sang ayah, bergegas memasuki masjid. Ia melihat putranya berada di
tengah jamaah yang berjubel. Tanpa basa basi kepada jamaah di sekitar,
ia berteriak keras, menghampiri si anak, lantas memegang tangan dengan
kuat dan menggusurnya keluar masjid.
Saat di luar, si ayah
sibuk mencari-cari sandalnya. Setelah sandal ditemukan, ia hendak
mengenakannya sembari berdiri.Namun, ia kehilangan keseimbangan, dan
hampir terjatuh. Pegangan si anak tidak terlalu kuat. Namun saat oleng,
tiba-tiba dari arah samping ada seorang anak muda yang cepat memegangi
dan menyodorkan sandalnya. Ia membungkukkan badan, mempersilahkan si
ayah memakai sandal. Si ayah terkesima. Ia lantas bertanya,
"Mengapa kamu lakukan itu?"
Ia menjawab, "Karena Islam memerintahkan kita untuk menghormati orang tua."
"Siapa namamu, anak muda?"
"Hasan Al-Banna."
"Hah, Hasan Al-Banna?"
"Ya,"
"Jika begitu, bawalah anakku ini berguru padamu. Ada anak satu lagi, akan kukirim mengaji padamu."
Itulah akhlak dari pelanjut dakwah Rasul Imam Asy-Syahid Hasan Al-Banna.
"Tidaklah aku diutus melainkan untuk menyempurnakan akhlak-akhlak terpuji." Sosok dengan kelembutan akhlaknya membuat penjajah Inggris dan Perancis ketar-ketir.
Karena Penjajah tahu, dakwah dengan akhlak yang mampu meluluhkan hati, menundukkan
fikroh, dan memecahkan kerasnya 'ashobiyah. Rasul tidak mengatakan,
"Tidaklah aku diutus melainkan untuk menegakkan syariah atau menegakkan
khilafah atau politik atau bisnis, dan lainnya. Mengapa, karena akhlak
adalah RUH yang menjadi SPIRIT bagi setiap langkah seorang hamba saat
berhubungan dengan AL-KHALIQ dan AL-MAKHLUQ.
Tanpa akhlak, sistem ekonomi menjadi RIBAWI.
Tanpa akhlak, MANDAT menjadi LAKNAT.
Terlepas mandat itu melalui sistem monarkhi, demokrasi, sosialis, atau Khilafah sekalipun.
Tanpa akhlak, ideologi menjadi MOMOK menakutkan.
Tanpa akhlak, hubungan sosial menjadi sok-SIAL.
Tanpa akhlak, Dakwah yang mengajak pun jadi MENGEJEK.
Wahai diri dan jiwa-jiwa yang berharap meraih surga. Mari hadapkan jiwa
kita kepada agama yang hanif. Agama yang sesuai fitrah suci. Maka
ajakan, doktrin, ajaran yang bertentangan dengan fitrah ... pasti karena
jauh dari AKHLAK.
Nandang Burhanudin
Sumber: Islamedia